-

Surat Untuk Masa Lalu

23:01

Hai masa laluku,

Apa kabar? sudah lama tidak mendengar kabar darimu. Tidak banyak yang terjadi padaku. Tapi aku harap hal yang menyenangkan terjadi padamu. Aku selalu berharap yang terbaik untuk kamu.

Terima kasih karena kamu pernah menjadi bagian dari perjalananku. Tenang saja, aku tak akan melupakanmu. Kamu telah menjadi penguat langkahku. Semua yang pernah aku alami bersamamu begitu membekas dan mampu membentukku menjadi seperti sekarang.

Kamu sedang apa? Bagaimana dengan kuliah yang saat ini sedang kau lanjutkan bersamaan dengan karirmu dan teman-temanmu yang menyenangkan itu? Aku harap mereka masih membuatmu bahagia. Aku rindu tawamu sebelum kita mengenal jarak.

Aku tak tahu kenapa aku menuliskan ini untukmu, aku rasa aku ingin berdamai dan mendewasakan diri. Banyak hal yang belum sempat aku sampaikan dan aku sangat ingin membicarakannya padamu. Tapi bertemu denganmu aku rasa bukan ide yang bagus. Bukan, bukan karena aku benci melihatmu tapi untuk saat ini, lebih baik seperti ini saja.


Salam hangat,
Masa lalumu

-

Suara

21:40

Sabtu kali ini sendu. Aku lebih memilih untuk duduk sendiri di coffee shop ini. Kulihat beberapa pasang kekasih yang berteduh diluar. Ini rutinitasku. Menikmati akhir pekan ditemani secangkir caramel macchiato hangat. Hujan yang tak kunjung henti membuatku enggan untuk bergeser sedikitpun dari tempat dudukku. Tak banyak yang kulakukan. Hanya memandang jalanan, membiarkan lamunanku bertualang keluar. Ah andai saja Mika masih hidup. Ia pasti akan menemaniku disini. Walaupun dia juga akan mencelotehiku tentang banyaknya kopi yang sudah aku minum hari ini. Mika tidak suka kopi.

"Tari?" ucap suara dibelakangku. Cukup membuatku tersentak dan memaksa lamunanku untuk kembali menyatu dengan alam sadarku. Itu suara Langit, kawanku. Suatu kebetulan melihatnya disini. Sudah 3 tahun aku tidak bertemu dengannya.
"Eh, Langit? Hey! It's been a long time!" Ujarku seraya menjabat tangannya. Sudut mataku menangkap pria berkacamata berambut sebahu yang bersamanya. Mirip Mika, tapi kulitnya lebih gelap.

Rupanya Langit dan kawan-kawannya adalah band yang perform malam ini. Mataku tak lepas dari Sena. Ya, pria yang mencuri perhatianku itu namanya Sena. kudengar Langit memanggil namanya sebelum mereka bersiap untuk perform. Tidak ada perkenalan formal antara aku dan kawannya Langit karena mereka sedang diburu waktu.

Aku menyesap kopiku yang tinggal sedikit. Mengalihkan pandanganku kembali ke jalan. Hujannya sudah reda. Aku bersiap pulang, menghindari hujan yang bisa datang lagi kapan saja.

"Sir, I'm a bit nerveous 'bout being here today
still not real sure what i'm going to say"

Sontak aku menoleh kearah Langit dan kawan-kawannya. Sena. Dia yang ada dibalik microphone.

"so bare with me please if I take up too much of your time
see in this box is a ring for your oldest"

Suaranya membuatku terpana. Aku pun akhirnya kembali duduk dan pindah posisi hanya untuk melihat Sena lebih jelas. Aku lihat ia menatapku dan senyuman tipis tersungging di bibirnya. Jantungku mencelos.

Apa kamu pernah dengar istilah cinta pada pandangan pertama? Apa itu juga bisa berlaku untuk cinta pada pendengaran pertama? Terdengar konyol kah?

Aku mengurungkan niatku untuk pulang. Hanya agar dapat mendengar suara itu. Tanpa sadar aku tersenyum dan jantungku berdegup kencang. Aku menikmati lagu demi lagu yang mereka mainkan. Tidak kusangka aku bisa merasakan kupu-kupu terbang diperutku. Ini menyenangkan. Malam makin larut dan mataku masih tak dapat terlepas dari Sena. Sesekali aku mengalihkan pandangan saat Sena melihat kearahku. Langit dan bandnya menutup performance malam itu dengan lagu Aerosmith - I Don't Wanna Miss A Thing  diiringi applause dari penonton.

"Kalian keren mainnya!" Pujiku yang dibalas dengan ucapan terima kasih dari mereka setelah kembali ke meja didekatku. Kulihat Sena bergegas untuk pulang disaat Langit dan kawannya yang lain duduk dan memesan kopi. Agak kecewa memang, karena tujuanku menunggu adalah Sena.

Kuharap aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku ingin mendengar suaranya lebih banyak lagi, lebih lama lagi. Suara yang membuatku lupa akan Mika.