beberapa hari yang lalu salah seorang rekan kerjaku bertanya padaku, "kamu lebih baik dicintai atau disayangi?" tanpa berpikir panjang aku pun langsung menjawab "aku lebih baik disayangi."
dalam hal asmara, menurutku rasa terdalam yang pernah seseorang alami adalah rasa sayang. bukan cinta. kata "aku sangat mencintaimu" terdengar gombal ditelingaku tetapi tidak dengan kata "aku sangat menyayangimu", itu justru terdengar manis.
ada beberapa pepatah yang menurutku lucu, "cinta itu buta." dan "kalau sudah cinta, kotoran kucing pun rasa cokelat." haha! jangan mau dibutakan oleh cinta. apalagi dibodohi. selamanya kotoran kucing akan tetap menjadi kotoran. cinta tidak mampu membuatmu berpikir logis.
beberapa orang disekitarku mengalami rasa yang aku yakin dapat mendeskripsikan cinta buta. aku kenal baik dengan orang yang lantas berpikir untuk mengakhiri hidupnya saat putus cinta. aku juga kenal dengan orang yang berubah "jahat" setelah disakiti cinta.
sungguh sangat disayangkan jika cinta membuatmu membenci saat ia tidak lagi berpihak denganmu.
bagaimana denganmu?
kamu lebih baik dicintai atau disayangi?
Segelintir umpatan terpampang dilayar smartphone ku.
Hening.
umpatan dari seseorang yang pernah mengisi hari-hari ku beberapa bulan kebelakang.
Pergolakan yang mungkin sudah terlalu lama ia pendam.
Kuketuk layar smartphone ku, mengetik beberapa kata untuknya lalu terdiam.
Muncul keraguan dalam diriku.
Berpikir dan memantaskan diri.
Satu hela nafas mengiringi pesanku padanya.
Menunggu dalam kekhawatiran.
Emosinya tumpah.
Entah berapa baris kata yang mampu aku kirimkan. Mencoba menetralkan emosinya ternyata seperti menenangkan singa yang baru saja tertembak.
Mustahil.
Tapi tetap saja aku berusaha.
Memoriku terpental ke 19 November tahun lalu.
Ketika ia menenangkan singa betina yang hampir kehilangan harapan.
Pelukan hangat dan kata-kata yang menenangkan.
Aku lakukan cara yang sama.
Ya, kalian mungkin sudah tau apa konsekuensi menenangkan singa jantan yang sedang berada dipuncak kekesalan.
Daging tipisku dirobek olehnya.
Sakit memang.
aku gagal.
Mungkin aku kurang handal.
Tapi satu hal yang perlu kalian tau,
Kepedulianku tidak pernah berhenti setelah ia tidak lagi berkenan mengisi hariku yang akan datang dan meskipun rasa ini perlahan memudar.
Ego dalam diri pernah bilang "cinta itu harus memiliki". Kata-kata semacam itu terpatri dibenakku sejak aku mengenal yang namanya cinta monyet. Melakukan hal-hal konyol untuk mendapatkan "cinta".
Sebetulnya aku sendiri (bisa dibilang) tidak percaya cinta. Kata kerja itu tidak pernah benar-benar terasa nyata di kehidupanku. Aku ingat, waktu itu aku pernah berucap "cinta itu omong kosong. Hanya ada suka dan sayang. Sudah. Tidak ada tingkatan yang lebih tinggi dari sayang."
Para remaja yang baru belajar memiliki kekasih pun punya pendapat, "cinta itu tanpa alasan." Tapi saat ditanya "kenapa?", Mereka berlomba-lomba menyombongkan alasan mereka memilih kekasih hati masing-masing.
"Kekasihku tampan."
"Oh, dia pandai."
Bukankah itu juga termasuk alasan?
"Kekasihku tampan."
"Oh, dia pandai."
Bukankah itu juga termasuk alasan?
Kedekatanku pada seseorang akhirnya membuatku sadar. Cinta itu ada dan membutuhkan proses. Tidak muncul begitu saja dalam hitungan detik seperti cinta pada pandangan pertama di serial drama picisan. Aku sempat mengelak, membangun tembok diantara aku dan dia. Tapi terlambat. Aku jatuh cinta.
"Kenapa?"
Seketika aku terdiam saat salah seorang sahabatku menanyakan kenapa aku jatuh cinta. Tenggorokanku serasa tercekat, tidak bisa mengucap sepatah kata pun. Sampai saat ini pun aku tidak dapat menemukan jawabannya.
"Kenapa?"
Seketika aku terdiam saat salah seorang sahabatku menanyakan kenapa aku jatuh cinta. Tenggorokanku serasa tercekat, tidak bisa mengucap sepatah kata pun. Sampai saat ini pun aku tidak dapat menemukan jawabannya.
Dewi fortuna berpihak padaku. Ya, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku diajak melayang tinggi dan kemudian dihempaskan kembali ke bumi oleh sang Cupid.
"Aku dan kamu itu beda"
Pernyataan yang terlontar dari bibirnya seakan menamparku. Memaksaku bangun dari kenyataan. Aku dan dia tidak akan pernah menjadi kita.
"Aku dan kamu itu beda"
Pernyataan yang terlontar dari bibirnya seakan menamparku. Memaksaku bangun dari kenyataan. Aku dan dia tidak akan pernah menjadi kita.
Dia lebih buruk dari narkotika dan zat-zat adiktif lainnya. Begitu candu. Besar keinginan untuk berhenti tapi kenyataannya keinginan untuk bertahan jauh lebih besar dari itu. Seperti para pemakai narkotika yang dijerat tanpa ampun oleh zat-zat terlarang tersebut.
Dia membuatku memahami apa artinya cinta. Cinta yang semakin lama semakin besar dan aku tidak tau kapan harus berhenti disaat dirinya sendiri memutuskan untuk menghapus perasaannya padaku. Menyakitkan? Sedikit. Tapi aku bahagia. Ya, mencintainya membuatku bahagia. Sampai detik ini pun aku tersenyum simpul, melupakan kenyataan bahwa perlahan dia menjauh dan membiarkan dia berlari di pikiranku.
Mungkin aku hanya bisa menunggu. Menunggu dia menjadi kebahagiaan sejatiku. Atau menunggu dia menemukan kebahagiaan sejatinya.
catatan kecil dariku.
yang masih memiliki rasa itu.